Renungan PAGERWESI; Pagari Diri dengan Pengetahuan Spiritual

Om Swastiastu – Semoga berada dalam keadaan baik atas lindungan
Hyang Widhi; Tuhan Yang Mahaesa.

Hari Rabu, Kliwon Wuku Sinta; tanggal 3 Maret yang lalu umat Hindu kembali merayakan hari Raya PAGERWESI. Hari raya siklus enam bulanan (210 hari) ini merupakan rangkaian perayaan hari Raya Saraswati. Apa sesungguhnya hakikat dari perayaan hari Raya PAGERWESI?

Perayaan hari Raya PAGERWESI masih rangkaian hari Raya Saraswati. Diawali dengan perayaan hari Saraswati kemudian Banyupinaruh, Soma Ribek, Sabuh Mas dan PAGERWESI. Bahkan menurut dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar; I Wayan Suka Yasa dan Wayan Budi Utama, rangkaian perayaan rerahinan itu juga mengandung konsep Catur Purusa Artha; Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Ketika ilmu pengetahuan diturunkan Sang Pencipta melalui simbol Dewi Saraswati, di sana terdapat konsep Dharma. Selanjutnya, setelah ilmu pengetahuan dan keterampilan dikuasai kemudian digunakan untuk mencari Artha. Konsep artha itu tercermin dalam perayaan Soma Ribek. Artha itu kemudian digunakan untuk memperoleh kesenangan (Kama), tergambar dalam perayaan rerahinan Sabuh Mas. Sabuh Mas dikonotasikan serba gemerlap.

Nah, agar kita tidak larut begitu saja pada kebahagiaan jasmani (lahiriah) berupa Artha dan Kama, pada perayaan PAGERWESI-lah kita diingatkan agar memagari diri sekuat besi dengan pengetahuan spiritual agar mencapai kebahagiaan rohani (batiniah). Dengan demikian terjadi keseimbangan antara kebahagiaan jasmani dan rohani yakni Mokshartam atau Jiwanmukti. Dalam perayaan hari Raya PAGERWESI inilah terkandung konsep Moksha. Jadi, rangkaian rerahinan dari perayaan hari Raya SARASWATI hingga PAGERWESI juga sesungguhnya mengandung konsep Catur Purusa Artha.

Hindu sesungguhnya tidak alergi dengan artha dan kama, tetapi kita tidak boleh sampai terikat atau tergerus oleh keduanya. Untuk mencari keduanya mesti dilandasi dharma. Karena itu diperlukan pengendalian berupa kekuatan spiritual. Jika materi dianggap mengganggu, bentengi diri dengan spiritualitas sehingga mampu menghadapi problema kehidupan di dunia. Dengan demikian kita bisa mengendalikan hidup ini munuju arah kesempurnaan.


Paramesti Guru

Guru besar Unhi Prof. Dr. IB Gunadha, M.Si. mengatakan dalam perayaan hari Raya PAGERWESI ini umat Hindu memuja Brahman (Hyang Widhi) Tuhan Yang Mahaesa dalam manifestasinya sebagai Siwa Mahaguru atau Hyang Paramestiguru; Guru dari segala Guru, lewat bimbingan gurulah kita dapat menguasai pengetahuan dengan baik. Kaweruhan atau Ilmu Pengetahuan yang telah diperoleh hendaknya dijadikan benteng yang kuat menghadapi tantangan hidup. Ilmu Pengetahuan itu hendaknya dijadikan bekal untuk mencapai tujuan hidup yakni kesejahteraan dan ketenangan bathin.

Dalam perayaan hari Raya PAGERWESI inilah umat Hindu sejatinya diajarkan tentang kewaspadaan menghadapi berbagai tantangan, dengan demikian kita akan penuh kesadaran dalam menjalani hakikat hidup. Saat kita menghadapi berbagai tantangan, kita sejatinya diajarkan menarik diri ke dalam yakni merenung. Dengan demikian kita dapat dengan jelas melihat persoalan sehingga mampu mencari solusi pemecahannya atau memperoleh jalan yang terang tetap berada di jalur kebenaran – Dharma.

Untuk mempelajari Ilmu Pengetahuan (Kaweruhan) yang diturunkan saat hari Saraswati, kita sesungguhnya memerlukan guru. Dalam hal ini peran guru sangatlah mulia. Saat perayaan hari Raya PAGERWESI-lah umat Hindu memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Mahaguru. ”Setelah umat mendapat Ilmu Pengetahuan, teori pengetahuan itu perlu dipraktikkan atau diimplementasikan. Dalam mengimplementasikan itu perlu guru pembimbing agar tidak disalahgunakan.

~Sloka 2.53 Bhagavad gita~  Sruti-vipratipanna te yada sthasyati niscala
samadhav acala buddhis tada yogam avapsyasi
.
Artinya: Bila pikiranmu tidak goyah lagi karena bahasa kiasan Weda dan pikiran mantap dalam semadi keinsafan diri, maka engkau sudah mencapai kesadaran rohani.

Semoga DAMAI datang sebelum kita membutuhkannya.
Semoga KASIH datang sebelum kita menebarkannya.
Semoga SHANTI datang sebelum kita mengucapkannya.

Om Shanti Shanti Shanti Om.

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.